sunat untuk perempuan di somalia


Wanita Somalia berusia pertengahan tigapuluhan yang saat ini berada di depanku, hanya tersenyum samar, sekali-sekali tangannya membetulkan jilbab besar yang dikenakannya, dan kadang-kadang menjawab singkat 'Yes' atau' No' saja atas pertanyaan-pertanyaan singkat yang aku ajukan, yang berkaitan dengan budaya di negeri asalnya, di suatu Siang yang panas menjelang Zuhur, saat kami asyik ngobrol di depan gerbang masjid, sambil menunggu anak-anaknya selesai mengaji



Dia masih nampak pasif, termasuk ketika kutanyakan topik sensitif yaitu female genital mutilation atau sunat perempuan yang marak di negaranya. Aku ingin mendengar langsung from the first source. Wanita berkerudung rapat di depanku lagi-lagi hanya tersenyum sebelum akhirnya hanya menjawab singkat :

"Yes" matanya tidak berani menatapku secara langsung.

"But..nowhere in the holy book said that..!" Aku coba ngeyel..

Dia hanya mengangkat bahu, "I know...but this is about our culture." akhirnya dia menjawab malu-malu.

"They cut you too?" Tanyaku lebih lanjut, walau tentu aku sebenarnya sudah tahu jawabnya.

Wanita di depanku tersebut hanya mampu mengangguk. Entah apa yang ada dibenaknya atas
semua pertanyaan-pertanyaanku.

Dear KoKiers,

Topik mengenai sunat perempuan selalu menggelitik ujung sanubariku, berbagai macam sumber baik buku maupun wikipedia dan sumber on line lainnya rasanya belum mampu memuaskan dahagaku. Rasa ingin tahu sebanyak-banyaknya tentang hal ini dan keinginan kuat untuk berbagai dengan KoKiers mendorongku untuk menulis artikel ini. Apalagi dua minggu lalu aku baru saja menyelesaikan sebuah buku karangan seorang model Somalia yang menjadi korban kebrutalan Female Genital Mutilation: Waris Dirie. Dirie dengan gaya tulisan yang sangat passionate melakukan perjalanan ke beberapa negara Eropa untuk melakukan riset penguat data untuk buku yang sedang dilirisnya sebagai ajang promosi penghentian praktek brutal Female Genital Mutilation.

Fakta di lapangan sungguh sangat mengejutkan karena ternyata di negara-negara Eropa Baratpun ternyata issue FGM bukan isapan jempol belaka namun merupakan fakta yang menyedihkan. Siapa sangka di tengah glamournya kota Paris, London, Viena atau Berlin ternyata terselip cerita sedih korban FGM yang hebatnya dilakukan di kota-kota tersebut dan bukan di desa ujung berung di pelosok primitif Afrika.

Tentu, para korban dan pelaku FGM di kota-kota tersebut bukanlah orang bule asli melainkan para imigran baik yang berasal dari Afrika atau beberapa negara Timur tengah. Mereke para pelaku budaya FGM meng-klaim sunat perempuan lebih bersifat agamis. (baca : Islam)



Pertanyaan : benarkan budaya sunat perempuan berasal dari Islam?

Budaya sunat perempuan sudah ada jauh sebelum Islam turun. Fakta : sunat perempuan tidak dipraktekkan di negara-negara Islam seperti Saudi Arabia atau Lebanon misalnya. Budaya FGM (Female Genital Mutilation) atau juga disebut Female Genital Cutting, merupakan adat budaya kuno ribuan tahun lalu, yang masih berurat akar dan berlangsung sampai saat ini khususnya di negara-negara Afrika, seperti Mesir (terutama daerah Upper Mesir), Somalia, Sudan, Ghana, dan sedikit daerah di semenanjung Arab seperti minoritas di Syiria, Turki, dan Iraq.

Pelakunya bukan saja masyarakat muslim tetapi juga masyarakat agama lainnya. Seperti di Ghana yang mayoritas beragama Nasrani, dimana praktek sunat perempuan juga dilakukan di kalangan umat Nasrani. Di Mesir sendiri, diperkirakan sekitar 90% perempuan melakukan praktek sunat, alasan yang dikemukakan adalah untuk kebaikan anak perempuan dan juga sebagai perlindungan terhadap perempuan. Pemuka agama setempat jelas-jelas membantah jika dikatakan bahwa sunat perempuan merupakan budaya Islam. Walau ada juga pemuka agama yang pro bahkan mengeluarkan fatwa bahwa sunat bagi laki-laki dan perempuan adalah wajib.

Sunat yang ada di Mesir memang dikatakan masih bisa ditoleransi karena hanya memotong 'sedikit' bagian organ intim seorang anak perempuan. FGM sendiri ada empat type dari yang ringan yaitu sedikit melukai sampai yang sangat berat yaitu infabulation atau pemotongan clitoris total yang kadang-kadang menimbulkan penderitaan yang maha hebat bagi si anak perempuan, dan seringkali menyebabkan trauma psikology si anak sampai dewasa. Seperti apa yang diungkap Dirie dalam bukunya yang mewawancari beberapa korban FGM, serta pengalaman pribadi, korban FGM akan mengalami kesulitan menstruasi, sakit di saat kencing. atau saat melakukan hubungan seksual dan ketika melahirkan. Jeritan yang menyayat meregang nyawa menahan sakit maha hebat menjadi mimpi buruk tersendiri. Banyak korban yang selama hidupnya dihantui oleh mimpi buruk peristiwa penyunatan dirinya yang tidak manusiawi.

Praktek Infabulation/infibulation atau juga biasa disebut Pharaonic Circumsicion. adalah the most severe type of circumsicion. Infibulation berasal dari Mesir kuno khususnya daerah upper Egypt. FGM merupakan bagian dari puberty rites di negara-negara Sub Saharan. Fenomena Infabulation/infibulation pertama kali dilaporkan oleh Strabo bermula sekitar 3100 BC walau asal muasalnya sampai sekarang masih diperdebatkan. Biasanya seorang anak perempuan menjelang masa pubertas, sekitar usia 10-12 tahun atau di negara-negara tertentu dilakukan saat usia sangat dini yaitu sekiitar 5-10 tahun, akan menjalani proses infabulation tersebut.

Di masyarakat rural area, praktek biasanya dilakukan oleh para dukun tradisonal yang memotong, dengan alat-alat yang tidak higienis seperti penggunaan pisau cukur atau belah bambu yang ditajamkan, dan semua ini dilakukan tanpa obat bius, sehingga setiap irisan dan potongan daging yang lepas bisa dirasakan dengan jelas oleh si anak . Tidak heran banyak kasus ditemukan anak perempuan yang meninggal karena pendarahan hebat atau infeksi. Anak perempuan yang menjalani pemotongan alat organ intim baik yang bagian labia minor maupun labia mayor yang kemudian dijahit rapat dan hanya menyisakan sebuah lubang kecil untuk kencing dan jalan darah menstruasi saja, sehingga bentuknya menjadi datar dan rata mulus dan nampak bukan seperti kelamin wanita pada umumnya.



Di Afrika ada keyakina bahwa gadis yang tidak disunat akan tidak laku kawin, dan inilah yang menjadi momok tersendiri bagi para ibu yang mempunyai anak gadis. Uniknya para lelaki lebih mengambil sikap cuek dan tidak peduli atas penderitaan kaum wanita karena mereka menganggap bahwa FGM adalah budaya turun temurun mereka dan FGM mutlak urusan perempuan, laki-laki hanya pemberi blessing. Di dalam bukunya Dirie mengungkap dari sekian laki-laki yang berasal dari budaya FGM, yang sempat diwawancarai, hampir semua mengatakan mereka tidak tahu menahu tentang traumatis sunat perempuan.

FGM, dilatarbelakangi oleh adat semenjak jaman pagan demi menjaga kesucian seorang wanita supaya masih tetap perawan sampai menjelang pernikahannya serta untuk mencegah seorang wanita menjadi binal dan melakukan pre-marital sex. Ironisnya ada sebagian perempuan-perempuan yang mengalami FGM memang benar-benar pengen tetap perawan terus, artinya rela organ intimnya dijahit kembali, sehingga ketika habis melahirkan dia akan meminta dokter untuk kembali menjahit rapat-rapat. Bahkan praktek re-infabulation ditemui juga di London, Paris atau Viena. Dokter terpaksa melakukan permintaan ini lebih ke alasan medis karena jika sehabis melahirkan tidak di-infabulasi lagi, makan sang ibu akan banyak sekali kehilangan darah dan bisa mengakibatkan kematian.

Menurut riset yang dilakukan oleh Dirie, pada umumnya yang terjadi di negara-negara Eropa, wanita dengan infabulasi melahirkan dengan cessarian. Dan dewasa ini di kota-kota tersebut sudah banyak organisasi yang bertujuan membantu para imigran korban FGM serta memberi penerangan kepada kaum lelaki tentang seluk beluk FGM. Walau dalam kenyataannya, praktek FGM masih tetap berlangsung dan dilakukan dengan cara-cara tersembunyi. Biasanya desakan pihak keluraga di kampung dari negara mereka berasal menjadi motivasi utama mengapa praktek FGM masih ada. Kenyataannya di jaman yang sudah modern ini, tidak semudah membalikkan tangan untuk mengubah mind set yang sudah beruat akar, walau dari pihak perempuan korban FGM, rata-rata mereka tidak mau anaknya mengalamai hal serupa seperti dirinya.

Seorang Ulama tinggi di Mesir menyatakan bahwa praktik FGM bukan dari Islam dan mendorong pemerintah setempat untuk segera mengakhiri praktek FGM. Diperkirakan sekitar 100 sampai 140 juta perempuan yang ada di dunia ini, mengalami proses sunat. Dengan rata-rata 4 gadis per menit. Sungguh angka yang fantastis! Lebih kejam lagi, perempuan yang menjlani proses infibulation ketika menikah dan pada malam pertama, maka untuk membuka "jalan", pengantin laki-laki kadang menggunakan pisau untuk merobek dan membuat lubang, karena jika tidak demikian hampir mustahil bisa melakukan hubungan intim. Ini juga merupakan trauma hebat tersendiri bagi perempuan korban FGM. Dan karena clitoris dibabat habis, bisa dipastikan perempuan korban FGM tidak pernah bisa menikmati hubungan intim. Di London, Berlin, Paris dan Viena, banyak wanita muda menjelang menikah memilih pergi ke klinik-klinik pribadi dan meminta dokter untuk de-infabualted atau membuka jahitan organ intimnya dan memperbaikinya senormal mungkin.




Bagaimana di Indonesia???
Menurut beberapa sumber, seperti Kompas beberapa tahun lalu, ternyata praktek sunat perempuan juga berlaku di masyarakat kita. Sebuah riset yang dilakukan oleh Population Council diketahui dari enam provinsi yang ada di Indonesia yaitu, Sumatra Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Gorontalo, selama 18 bulan Oktober 2001 sampai Maret 2003 menunjukkan adanya medikalisasi sunat perempuan, walau tidak sebrutal dan sekejam seperti yang terjadi di Sudan atau Somalia, namun masyarakat banyak yang percaya bahwa sunat perempuan adalah adat Islam, hal ini ditegaskan dengan adanya salah satu hadis nabi yang dipercaya ada yang menyatakan perihal sunat perempuan.

Hadis tersebut menyebutkan bahwa sunat perempuan adalah sunnah nabi dan dilakukan hanya dengan memotong sangat sedikit bagian organ intim perempuan (bagian kulit penutup clitoris) demi kesehatan dan juga kenikmatan sexual yang bisa dicapai seorang perempuan, (mempercantik seorang perempuan dan juga sebagai kehormatan bagi laki-laki).

Quote :


"Do not cut too severely, as that is better for a woman and more desirable for a husband"

Hadis ini me-refer tentang kebiasaan perempuan di Madinah pada masa itu , hadis tersebut masih banyak didiskusikan apakah benar-benar sahih (akurat) atau dhoif (lemah). Sebagian besar Ulama menyatakan bahwa hadis tersebut lemah. Ditekankan oleh orang yang menggunakan hadis tersebut sebagai referensi bahwa nabi tidak menganjurkan namun juga tidak melarang, sementara dalam kitab sucipun tidak ditemukan ayat yang mendukung. The Qur'an promotes the concept of a husband and a wife giving each other sexual pleasure during sexual intercourse. Sementara the genital mutilation akan meng-eliminasi kenikmatan hubungan intim. Demikian juga perihal sunat perempuan tidak ditemukan dalam holy scripture dari Old maupun New Testemen.

Kembali ke Indonesia, praktek yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di Indonesia, menurut sumber yang ditulis oleh Kompas on line pada bulan Juni 2005 atas judul HENTIKAN MEDIKALISASI SUNAT PEREMPUAN, praktek sunat di Indonesia dilakukan ketika bayi perempuan baru lahir yang dilakukan oleh bidan dan dipraktekkan hanya dengan 'melukai' sedikit saja (lebih bersifat simbolis). Bahkan sebagian besar masyarakat melakukan sunat yaitu dengan memotong kunyit atau hanya dengan menggosokkan perhiasan sebagai lambang di organ intim seorang bayi perempuan. Dan ini, bukanlah disebut mutilasi, karena bayi tidak akan mengalami kesakitan, biasanya proses sunat seorang bayi perempuan bersamaan dengan proses tindik kuping si bayi.



Selanjutnya menurut riset bahwa memang terbukti, sebagian besar masyarakat Indonesia melakukan sunat terhadap anak perempuannya. Menteri Pemberdayaan Perempuan dengan tegas melarang praktek sunat perempuan karena dianggap bisa merusak alat reproduksi perempuan. Kaum feminis menentang keras adat sunat perempuan yang dikatakan adalah menyalahi kodrat perempuan dalam menikmati kenikmatan sexual karena seperti apa yang dilakukan di beberapa negara di Afrika yang memotong clitoris dan labia mayor dan juga dengan menjahit liang kewanitaan , tidak saja melukai alat reproduksi tetapi juga to deprive sexual pleasure. Dan jelas-jelas merupakan bentuk tindak kekerasan terhadap kaum perempuan.

Kesimpulan umum : kebodohan adalah musuh utama umat manusia, dan perubahan harus diawali dari setiaop individu tanpa kecuali, maka dari itu sangat tepat jika dikatakan bahwa menuntut ilmu adalah hukumnya wajib. Period.

Artikel Terkait



2 komentar:

baiq on 31 Maret 2010 00.23 mengatakan...

ya allah, , , ,
kasihan para wanita, ,
gimana tuh rasanya kalau ML, ,,
apa ya bisa menikmatinya, , ,
tobatttttttttttt
tobattttttttttttttt

Alvita Widyastuti on 8 November 2012 01.45 mengatakan...

Astaghfirullah...
ngeri...gemeter...

Jadi Apa Pendapat Anda...???

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

 

Copyright 2011 All Rights Reserved | Blogger Template by Memang Unik and Rudi's Facebook